Konveksi Seragam Kerja yang Dicari Kalangan Milenials

Berbeda dengan zaman dulu, banyak perusahaan mendesain pakaian sebagai dress-code sangat formal dan kaku. Sepertinya terdapat pergeseran dari minat kolot seperti itu menjadi gaya yang lebih fleksibel, sehingga tidak jarang anak milenial mencari konveksi seragam kerja  yang benar-benar memahami isi pikirannya yang syarat dengan kata kekinian. Betul gak?

Jawabannya dapat Rekan & Rekanita lihat ketika banyak para karyawan muda yang kebetulan menjadi pengurus pembuatan seragam dari perusahaannya telah memiliki desain tersendiri saat proyek tersebut hendak dipercayakan pada penyedia jasa konveksi. Ukuran pilihan konveksi atau jasa pembuatan seragam kerja tersebut biasanya tak harus sebuah penyedia jasa atau industri yang besar, industri rumahan pun yang tak begitu populer bisa saja mengambil peran untuk produksi seragam kerja tersebut.

So, bagi Rekan atau Rekanita yang memiliki ide brilian mengenai desain seragam kerja di perusahaannya, jangan kawatir berkonsultasi dengan konveksi industri rumahan. Justru, konveksi baju industri rumahan ini biasanya akan memberikan perhatian lebih terhadap keinginan para kliennya. Mengapa? Daya jangkau konveksi rumahan tentu saja tak sebesar jangkauan industri pakaian ternama, dengan demikian proyek yang ada akan betul-betul dijaga presisi dan detail keinginan kliennya yang dianggap spesial ini. Make sense kan?

Ngomong-ngomong, masalah desain kalangan milenials pasti Rekan dan Rekanita pernah berpikiran bahwa pakaian seseorang tidak selalu mencerminkan etos kerjanya. Kemudian Rekan dan Rekanita langsung beropini bahwa zaman sekarang pakaian ‘bebas asal sopan’ yang penting memiliki etos kerja yang istimewa. Kemudian salah satu realisasi dari pemikiran itu dituangkan dalam berbagai desain platform atau seragam kantor yang stylish namun tetap mempertahankan nilai-nilai integritas perusahaan.

Mengapa Bisa Begitu ya?

konveksi seragam kerja anak milenials

Mengapa terjadi perubahan gaya pakaian kerja di kalangan milenials? (Foto: freepik.com)

Generasi milenials sendiri mengarah pada orang-orang yang lahir antara tahun 1989 hingga 1996, saat ini merupakan masa-masa produktif kalangan ini hanya saja memiliki keunikan tersendiri dengan gayanya yang sangat melek teknologi. Ya, di antara mereka pasti membayangkan pekerjaan yang hanya bisa dikerjakan di depan layar komputer bahkan perangkat smartphone masing-masing. Keinginan itu tentu saja bukan hal yang mustahil di era serba digital seperti sekarang ini, nyatanya banyak orang-orang dengan profesi penulis dan youtuber sukses di era sekarang.

Lantas apa hubungannya segala keinginan anak milenials dengan seragam kantor? Tentu saja, suasana unik yang–anggap saja–belum pernah ada sebelumnya memengaruhi aturan-aturan formal yang ada di perusahaan. Rekan dan Rekanita pasti sering bukan melihat perusahaan dengan dress-code alias seragam kerja yang stylish, ruangan kerja yang ceria dan desain ruangan istirahat yang sangat unik. Sebut saja, misalnya Tokopedia memiliki lapangan tenis meja yang diletakan tak jauh dari ruangan para karyawannya. Nah, suasana-suasana seperti inilah yang bisa mendorong semangat bekerja kalangan milenials. Bukan lagi aturan ‘militer’ yang diterapkan di kantor seperti zaman baheula ya.

Mungkin tidak semua, namun sebagian kalangan milenials pasti merasa jenuh dengan seragam kerja yang berdasi, sepatu pantofel, jam kerja yang sangat ketat. Saat ini kalangan milenials akan lebih terfokus pada deadline pekerjaannya namun dengan syarat ekspresi-ekspresinya dihargai sekalipun berada dalam ruang kerja.

Tren Seragam Kerja Kekinian di Kalangan Milenials

konveksi seragam kerja wanita milenials

Contoh tren hijab kekinian sebagai seragam kerja. (Foto: freepik.com)

“Mau kemana, Nak?” Tanya orang tua. “Berangkat kerja, Bu.” Jawab anaknya. “Lho, kok belum ganti baju?” Tanya ibu lagi. “Ya, memang mau pakai baju yang ini kok, Bu.”

Sedikit gambaran rasa heran beberapa orang tua ketika anaknya hendak pergi bekerja hanya mengenakan kemeja kerja ala-ala bintang sinetron atau bahkan hanya berkaus oblong dan beralaskan slop sandal. Mungkin dalam hatinya si anak, “Helo, ini bukan zaman Elvis Bu yang konser saja harus pakai jas.” Ups! Tak ada sedikit pun memandang sebelah mata idolanya Rekan dan Rekanita semua, kalimat tersebut hanya ingin menggambarkan memang perkembangan pakaian itu terus bergerak. Justru, saya sendiri seorang pengagum Elvis Presley dengan karya-karyanya yang masih dikenang hingga sekarang. Meski penampilan beda, anak milenials wajib tahu donk perkembangan sejarahnya.

Lantas Bagaimana dengan Etos Kerja Anak Milenials?

Etos kerja anak milenials

Etos kerja tak ditentukan pakaian. (Foto: freepik.com)

Meskipun gaya pakaian saat bekerja menuntut untuk casual, namun bukan berarti kalangan milenials bekerja asal-asalan. Ternyata di balik style dan kebebasannya seperti itu, kalangan ini ingin mengatakan bahwa perioritas utama adalah target pekerjaan tersebut tanpa harus direpotkan dengan gaya berpakaian yang terlalu kaku.

1. Mengutamakan Kenyamanan

Ketika kalangan milenials dituntut untuk menyelesaikan tugas-tugas dari perusahaan tempatnya bekerja, mereka akan fokus pada target pekerjaannya dibandingkan harus ribet memikirkan masalah penampilan yang hanya berada di permukaannya saja. Oleh karena itu, Rekan dan Rekanita jangan heran apabila perusahaan-perusahaan start up biasanya menyediakan spot-spot untuk bersantai di tengah ruangan kerja. Bukan bermaksud mendukung karyawannya untuk bermalas-malasan, melainkan sebagai fasilitas mood booster karyawannya dalam berkarya.

Bahkan para intelektual yang bekerja di biro jasa formal seperti firma hukum, kalangan milenilas akan memilih seragam kerja dengan warna yang netral dan kekinian meskipun harus berbalut kemeja dengan jas. Jadi, bagi Rekan dan Rekanita yang berniat mendirikan perusahaan atau memulai bisnis tak perlu lagi merancang suasana tempat bekerja terlalu kaku ya.

2. Pikiran yang Terbuka

Sudah bukan lagi zamannya bekerja sikut-sikutan, kalangan milenials sepertinya sudah terbuka pikirannya untuk menerima saran dari berbagai pihak bahkan dari juniornya sekalipun. Level manajer dan direktur pun biasanya secara terbuka menanyakan saran atau ide terbaru dari bawahannya.

3. Banyak Action

Alih-alih berambisi naik pangkat atau disanjung atasan, kalangan milenials lebih fokus pada pekerjaannya agar bisa segera tuntas. Lingkungan pekerjaan yang dipilih milenials biasanya memiliki keakraban yang unik antara bawahan dengan atasannya, bahkan seperti tak ada sekat saat berkomunikasi. Tak lagi kaku kayak zaman baheula, layaknya seorang pelayan yang berbicara pada rajanya. Cara berbicara kepada atasan tak beda dengan cara berbicara dengan teman satu jajaran dalam divisinya. Begitu pun atasan pada bawahannya, kalangan milenials biasanya tak begitu suka untuk terlalu diagung-agungkan oleh bawahannya namun tetap dianggap sebagai pemegang keputusan dalam tim tersebut.

Nah, jadi seperti itu kira-kira etos kerja anak milenials berdasarkan pengalaman dan pengamatan di sekitar. Kebudayaan berpakaian perusahaan yang sudah bertransformasi dari zaman formal ke zaman yang kasual namun penuh inovasi. Rasanya, wajar saja apabila para pengurus perusahaan yang mengkoordinir ketertiban berbusana di perusahaan tersebut akan menjatuhkan proyek pembuatan pakaian kerjanya pada konveksi seragam kerja industri rumahan karena industri rumahan seperti ini lebih fleksibel dalam menerjemahkan desain yang diinginkan.

Foto utama: freepik.com

Respond For " Konveksi Seragam Kerja yang Dicari Kalangan Milenials "